Lima Wasiat KH. Askandar
“Ahli ilmu (namanya) terus hidup meski ia telah mati, dan tulangnya telah hancur oleh rayap tanah. Si bodoh mati walau ia masih berkeliaran di muka bumi, jasad masih hidup tetapi hakikatnya ia mati” (Syaikh Burhanuddin). KH. Askandar merupakan seorang Kyai, Alim Ulama’ sekaligus pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, namanya kian harum di tengah masyarakat khususnya Banyuwangi. Ilmunya terus mengalir pada tiap santri meskipun sudah tiada lagi. Pondok Pesantren Manbaul Ulum menjadi sebuah peninggalan KH. Askandar yang paling monumental dan hingga saat ini masih bisa dijumpai keberadaannya, tepatnya di Dusun Berasan, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari sejarah biografi beliau, Salah satunya adalah 5 Wasiat KH. Askandar yang ditujukan untuk masyarakat umum khususnya jam’iyah Nahdlatul Ulama’. Berikut adalah lima wasiat almarhum almaghfurlah KH. Askandar: 1. “Jaman akhir iku jaman Jati Sunduk Ruyunng, okeh paguron kudhung Islam na...